Peresmian Lapangan Forel-Terubuk pada hari Senin (28/4) di Kepulauan Riau menandai babak baru bagi sektor hulu migas nasional. Tambahan kapasitas 20 ribu barel per hari mendorong total produksi nasional ke 605,3 ribu barel per hari — level tertinggi sejak 2023.

Lapangan ini dikembangkan oleh konsorsium KKKS dengan investasi awal USD 1,1 miliar. Fasilitas produksi terapung (FPSO) Anoa Wira berkapasitas 25 ribu bph telah beroperasi penuh sejak pertengahan April.

Kontribusi terhadap target APBN

Direktur Jenderal Migas, Dr. Hartono Sutejo, dalam sambutan peresmian, menyampaikan bahwa proyek ini menjadi katalis penting menuju pencapaian target lifting APBN 2026 sebesar 605 ribu bph.

"Forel-Terubuk membuktikan bahwa Indonesia masih memiliki potensi hulu yang sangat besar — kuncinya adalah eksplorasi yang konsisten dan iklim investasi yang kondusif."

Prospek pengembangan lanjutan

Tahap II pengembangan direncanakan beroperasi pada Q3 2027 dengan tambahan 8 sumur infill. Survei seismik 3D di sekitar struktur menunjukkan potensi cadangan tambahan hingga 45 juta barel.

Komponen lokal

Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 64% — melampaui target Permen ESDM 15/2024 yang menetapkan minimum 50% untuk fasilitas hulu offshore.

  • FPSO modifikasi domestik di galangan Batam
  • Pipa subsea fabrikasi PT Cilegon Steel
  • Pengoperasian dan pemeliharaan oleh tenaga lokal Kepri